Peranan Hutan di Wilayah KPH Pogogul

Kesatuan Pengelolaan Hutan Pogogul (KPH Pogogul) adalah wilayah pengelolaan hutan di Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah ini ditetapkan oleh Menteri Kehutanan melalui SK.756/Menhut-II/2012 tanggal 20 Desember 2012. Pada penetapan tersebut luas KPH Pogogul ± 199.534 ha. Seiring kebijakan perubahan kawasan hutan, luas wilayah KPH Pogogul saat ini ± 198.395 hektar, terdiri dari Hutan Lindung seluas 53.677 hektar, Hutan Produksi Terbatas seluas 96.587 hektar, dan Hutan Produksi seluas  48.131 hektar (KLHK, 2016). Wilayah ini berada pada lintas kabupaten, dengan kawasan membentang dari ujung timur Kabupaten Tolitoli hingga ujung timur Kabupaten Buol.

Hutan pada wilayah KPH Pogogul merupakan tempat hidup tumbuhan dan satwa liar. Dengan topografi yang bervariasi, curah hujan yang cukup, serta vegetasi yang didominasi oleh hutan primer, menjadikan kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Keanekaragaman tumbuhan di kawasan ini diantaranya Kayu Meranti, Palapi, Nyatoh, Rau, Bintangur, Agatis, Matoa, Dao, Kayu Binuang, serta tumbuhan tak berkayu diantaranya Rotan, Bambu, Aren dan jenis palma lainnya. Sedangkan satwa di wilayah ini diantaranya jenis Anoa, Babi rusa, Burung Maleo, kuskus dan beberapa lainnya. Satwa ini bersifat endemik, karena Pulau Sulawesi berada pada Garis Wallace.

Hutan pada wilayah KPH Pogogul menyediakan udara segar, air yang bersih dan menjaga keseimbangan iklim. Dengan berada pada 40 daerah aliran sungai, dan tutupan lahan yang didominasi oleh hutan primer sebesar 70%, maka kawasan ini berperan dalam menyediakan udara yang sejuk dan air yang bersih. Penduduk di sekitar kawasan hutan wilayah KPH Pogogul merupakan petani lahan kering dan lahan basah, sebanyak kurang lebih 82%. Petani lahan basah yang mengelola sawah, sumber air utamanya berasal dari kawasan hutan di wilayah KPH Pogogul. Selain itu, kebutuhan air dimanfaatkan pula untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik secara perpipaan maupun melalui aliran sungai. Bersama hutan lainnya di Sulawesi Tengah, KPH Pogogul berperan dalam menjaga keseimbangan iklim. Keberadaannya sangat penting bagi 3 juta warga Sulawesi Tengah.

Wilayah KPH Pogogul adalah ruang pemenuh kebutuhan hidup bagi sebagian masyarakat di sekitar dan di dalamnya. Masyarakat menggantungkan hidupnya dari hasil hutan seperti mengumpulkan getah damar, rotan, madu dan sebagainya. Sehubugan dengan hal tersebut, untuk pengelolaan hutan yang lebih berkeadilan, maka seluas 5.360 hektar Wilayah KPH Pogogul dikelola melalui skema perhutanan sosial berupa hutan desa. Desa-desa yang telah memiliki ijin berupa Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan meliputi Desa Air Terang (165 hektar), Boilan (122 hektar), Monggonit (781 hektar), Lakuan Buol (120 hektar), Busak 1 (933 hektar), Mokupo (127 hektar), Mendaan (413 hektar), Nandu (95 hektar), Lokodoka (144 hektar), Diapatih (544 hektar), Lripobogu (188 hektar), Labuton (298 hektar), Talaki (763 hektar), dan Desa Baturata (667 hektar).

Hutan adalah berkah dari Tuhan. Pengelolaan secara lestari mutlak dilakukan demi keseimbangan alam dan kehidupan warganya. Menjaganya, untuk Sulawesi Tengah yang makmur, adil dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *